Live Rentang Kala: Max Havelaar - Hati yang penuh dengan Curahan

Rentang Kala

Catatan Perjalanan, Pikiran, dan Jeda

← Kembali ke Beranda
Oleh: Isomuddin Rosyidi Memuat... 0 komentar

Max Havelaar - Hati yang penuh dengan Curahan

  • Judul Asli    : Max Havelaar of de Koffieveilingen der Nederlandse Handelsmaatschappi (Max Havelaar Atau Lelang Kopi Maskapai Dagang Belanda)
  • Penulis            : Multatuli
  • Penerjemah : H. B, Jassin
  • Penerbit      : DJAMBATAN, Cetakan ketujuh 1991 ISBN: 979 428 159 X
     
 
             Awalnya, pada waktu kelas tiga SMA, saya ditawari membaca buku ini oleh kakak saya. Saya terima saja tanpa berpikir panjang. Namun, lama-kelamaan, semakin saya baca, semakin saya tidak mengerti apa yang ada di dalamnya, sehingga saya terpaksa mengembalikan buku itu kepada kakak saya — waktu itu saya memang baru mulai menyukai kegiatan membaca. Baru ketika saya menginjak bangku kuliah, Alhamdulillah saya bisa melahap buku ini, meski tidak sepenuhnya mengerti.

Itu mungkin juga alasan mengapa saya sangat kesulitan memulai resensi buku ini. Sebab, jika saya harus mengikuti kaidah penyajian resensi yang baik dan benar, waktu saya untuk membuat tulisan baru di blog ini tidak akan cukup. Sama seperti saat membaca buku ini, menyajikan kembali inti ceritanya pun terasa sulit. Karena itu, saya memutuskan untuk menyajikan resensi ini menurut pemahaman saya sendiri, dengan harapan tetap dapat dicerna pembaca dengan baik (sebagaimana saya lakukan pada resensi buku-buku lain di postingan saya sebelumnya).

"Ya, saya akan dibaca!" — begitulah kutipan kata-kata Multatuli yang membuat saya bersemangat dan berusaha menuntaskan buku paling sulit yang pernah saya baca. Sampai sekarang, kata-kata itu masih melekat di hati saya sebagai kalimat yang mengandung unsur kepahlawanan seorang penulis.

Siapa yang tidak tahu Multatuli? Bahkan sewaktu saya masih duduk di bangku sekolah dasar, saya sudah diberitahu bahwa ada seorang Belanda yang baik hati, yang menaruh simpati dan empati kepada rakyat Indonesia, bernama Eduard Douwes Dekker, yang kemudian memakai nama samaran Multatuli.

Dalam pengantar dan pendahuluan buku ini, banyak informasi tentang kehidupan Multatuli, mulai dari ia dicampakkan dari jabatannya, kemudian menyewa sebuah losmen di Belgia, hingga akhirnya dalam waktu sebulan ia menulis buku berjudul Max Havelaar pada musim dingin tahun 1859. Tulisan ini kemudian terbit pertama kali pada tahun 1860 sebagai buku dan diakui sebagai karya sastra penting, menjadi bahan pembicaraan para sejarawan, kritikus, dan pengamat kesusastraan dunia.

"Multatuli bukanlah satu-satunya dan juga bukan yang pertama yang mensinyalir dan menggugat keadaan yang buruk yang sudah lama berjalan, tapi sedangkan protes yang lain-lain tiada kedengaran atau hampir tiada kedengaran, buku Max Havelaar akan terasa pengaruhnya yang besar. Sebab buku itu juga merupakan mahakarya sastra dan justru karena itulah orang mendengarkan suara Multatuli." (Drs. G. Termorschuizen, dalam pendahuluan buku Max Havelaar, 1991, hlm. VII)

Buku Max Havelaar yang saya baca adalah edisi lama dengan kertas yang sudah menguning, terbitan 1991, milik paman saya, seorang aktivis (seniman) dari Forum Lenteng. Sesungguhnya tidak ada yang menyuruh saya membaca buku tersebut. Namun, karena kebanggaan saya sebagai mahasiswa UIN dan kesadaran bahwa mahasiswa yang baik harus banyak membaca agar berpengetahuan luas, saya pun memaksakan diri menuntaskan buku tersebut — meski hampir tiga bulan baru selesai karena harus bersaing dengan berbagai kegiatan intra maupun ekstra kampus.

Douwes Dekker lahir pada tahun 1820 di Amsterdam, dibesarkan dalam keluarga Protestan yang sederhana. Dalam pendahuluan yang ditulis oleh Drs. Termorschuizen, kita bisa mengetahui biografi singkat kehidupan Dekker sebagai pejabat Belanda yang baik hati, dan karena kebaikan hatinya itu pula ia harus berpindah-pindah tugas ke beberapa daerah di Indonesia. Dari pendahuluan itu, juga dari cerita Max Havelaar sendiri, kita dapat mengetahui bahwa Dekker adalah sosok yang berwatak keras dan keras hati. Yang selalu ada dalam pikirannya adalah bagaimana orang lain bisa bahagia, sementara ia sendiri tidak peduli dengan kebahagiaannya sendiri.

Buku Max Havelaar ini (menurut pendapat saya) adalah curahan hati Dekker atas tragedi hidupnya yang selalu melarat dan dirugikan oleh para petinggi Belanda pada masa itu. Ia mengkritik para pejabat serta petinggi Istana Belanda yang tidak sadar akan kemelaratan bangsa pribumi yang ditindas oleh kesewenang-wenangan. Berbagai usaha telah dilakukan Dekker, namun tidak membuahkan hasil. Dari kekecewaan itulah ia menulis buku yang kemudian menggemparkan dunia.

Bisa dibilang kisah Max Havelaar, tokoh dalam buku ini, adalah kisah nyata yang dialami oleh Douwes Dekker sendiri (yang dalam bukunya menggunakan nama samaran Multatuli sebagai pengarang). Jika kita membaca pendahuluan buku ini dan mengikuti keseluruhan ceritanya, akan ditemukan banyak kesamaan — karena memang Douwes Dekker sendirilah sosok Max Havelaar itu.

Yang menarik dari buku ini adalah penyampaian cerita melalui tiga sudut pandang: Droogstoppel, si makelar kopi; Stern, pemuda Jerman; dan Multatuli sendiri. Kemelaratan dan kebijaksanaan Max Havelaar diceritakan lewat sudut pandang Stern. Stereotip buruk kaum Belanda dapat kita lihat dari pandangan Droogstoppel. Sementara kebenaran atas segala fakta dapat kita telusuri dari sudut pandang Multatuli.

Meskipun tampaknya Droogstoppel adalah tokoh antagonis dalam buku ini, justru banyak kalimat penuh kritik yang tajam terdapat di bab-bab si makelar kopi ini. Saya berani menjamin, bagi Anda yang suka menulis puisi, akan berpikir dua kali setelah membaca kritik Droogstoppel yang tidak menyukai sastra — yang menurutnya penuh kebohongan.

Seperti yang banyak disebutkan dalam blog lain yang turut mengulas Max Havelaar, ada satu bab yang sangat menyentuh hati, yaitu kisah cinta romantis "Saijah dan Adinda" — kisah cinta anak pribumi yang harus terhenti akibat kesewenang-wenangan kaum penjajah. Satu kata yang selalu saya ingat setiap membahas cerita ini adalah "kerbau". Dalam beberapa resensi dan artikel yang saya temukan, kisah Saijah dan Adinda ini bahkan disandingkan dengan Romeo and Juliet karya sastrawan Inggris ternama, William Shakespeare.

Membaca karya sastra memang bermanfaat bagi kita, dan itu benar-benar saya rasakan beberapa waktu lalu — ketika kerbau ikut "berdemonstrasi" mengkritik SBY dalam kasus Si Buya. Saya tidak akan memahami maksud opini seorang budayawan (saya lupa namanya) di kolom opini Kompas, seandainya saya belum membaca Max Havelaar. Penulis opini itu menganalogikan kerbau sesuai makna kerbau dalam kisah Saijah dan Adinda, yaitu inti sari kehidupan Nusantara: dengan kerbau rakyat hidup, dengan kerbau rakyat bersemangat, dengan kerbau terlihat kemelaratan rakyat, dan dengan simbol kerbau dikritiklah kesewenang-wenangan penguasa. Penulis opini itu juga mengatakan, seandainya para demonstran dan SBY sudah membaca kisah Saijah dan Adinda, tentu tanggapan mereka tidak akan seheboh itu. Aksi demo kerbau itu justru bisa menjadi pemicu untuk bangkit dari karut-marut masalah dalam negeri yang tak kunjung selesai.

Kisah Max Havelaar ini pada akhirnya diselesaikan lewat sudut pandang Multatuli sebagai pengarang. Pada awalnya saya mengira akan menangis dan sedikit kecewa karena mengira akhir cerita akan sad ending. Ternyata dugaan saya salah. Setelah menuntaskan buku ini, saya jadi mengerti bagaimana perjuangan seorang pahlawan yang berani menantang apa yang salah dan mempertahankan apa yang benar. Saya sungguh sangat salut kepada Douwes Dekker.

Bahasa yang digunakan dalam buku ini tergolong berat, selain memakai ejaan lama, juga sangat kental dengan kaidah penerjemahan yang berusaha tidak menghilangkan atau mengubah makna asli dari kalimat berbahasa Belanda ke dalam bahasa Indonesia baku. Namun, hal itu bisa kita pahami apabila membacanya secara intens dan perlahan-lahan meresapi maksud setiap kalimatnya.

Puisi-puisi yang diselipkan dalam cerita ini bisa menjadi hiburan sejenak setelah membaca sekian halaman pembahasan yang cukup rumit dari Multatuli.

Buku ini saya sarankan kepada Anda, para book lovers khususnya dan para penikmat bacaan pada umumnya, sebagai bahan pembelajaran sejarah, sastra, dan budaya.

Malang, 4 Januari 2011

Al Faqier

Bagikan Tulisan Ini:

šŸ’¬ Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada tanggapan untuk tulisan ini. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tuliskan Komentar Anda:

Ikuti Penulis

Tautan berhasil disalin!