Catatan Perjalanan Haji 2026 (Bagian 2)
Dua Lembar Kain Putih Jumat, 15 Mei 2026, sekitar pukul 03.30, kami diperintahkan untuk mempersiapkan diri dan mengenakan pakaian ihram le...
Dua Lembar Kain Putih
Jumat, 15 Mei 2026, sekitar pukul 03.30, kami diperintahkan untuk mempersiapkan diri dan mengenakan pakaian ihram lengkap. Dini hari itu menjadi salah satu momen yang terasa berbeda. Dua lembar kain putih mulai dikenakan. Sederhana, tanpa banyak atribut, tanpa menunjukkan jabatan, pekerjaan, kekayaan, atau kedudukan. Semuanya tampak sama. Ihram seperti sebuah pengingat bahwa dalam perjalanan menuju Allah, berbagai identitas duniawi perlahan harus dilepaskan. Kita mungkin sehari-hari dikenal sebagai dosen, guru, pengasuh, pengusaha, pejabat, orang tua, atau dengan berbagai sebutan lainnya. Tetapi ketika mengenakan ihram, semua itu seperti diletakkan sejenak di luar pintu. Yang tersisa adalah seorang manusia yang datang sebagai hamba. Putih dan sederhana. Ada sesuatu yang terasa dalam ketika pakaian itu dikenakan. Perjalanan yang sebelumnya masih berupa rencana kini menjadi nyata. Kami tidak lagi sekadar hendak bepergian ke negeri yang jauh. Kami sedang memasuki rangkaian ibadah yang menuntut kesabaran, kedisiplinan, dan kepasrahan. Mungkin karena itu ihram bukan sekadar pakaian. Ia adalah simbol kesediaan untuk menyederhanakan diri. Semakin banyak yang kita lepaskan, semakin jelas siapa diri kita di hadapan Tuhan.
Jumat, 15 Mei 2026, sekitar pukul 03.30, kami diperintahkan untuk mempersiapkan diri dan mengenakan pakaian ihram lengkap. Dini hari itu menjadi salah satu momen yang terasa berbeda. Dua lembar kain putih mulai dikenakan. Sederhana, tanpa banyak atribut, tanpa menunjukkan jabatan, pekerjaan, kekayaan, atau kedudukan. Semuanya tampak sama. Ihram seperti sebuah pengingat bahwa dalam perjalanan menuju Allah, berbagai identitas duniawi perlahan harus dilepaskan. Kita mungkin sehari-hari dikenal sebagai dosen, guru, pengasuh, pengusaha, pejabat, orang tua, atau dengan berbagai sebutan lainnya. Tetapi ketika mengenakan ihram, semua itu seperti diletakkan sejenak di luar pintu. Yang tersisa adalah seorang manusia yang datang sebagai hamba. Putih dan sederhana. Ada sesuatu yang terasa dalam ketika pakaian itu dikenakan. Perjalanan yang sebelumnya masih berupa rencana kini menjadi nyata. Kami tidak lagi sekadar hendak bepergian ke negeri yang jauh. Kami sedang memasuki rangkaian ibadah yang menuntut kesabaran, kedisiplinan, dan kepasrahan. Mungkin karena itu ihram bukan sekadar pakaian. Ia adalah simbol kesediaan untuk menyederhanakan diri. Semakin banyak yang kita lepaskan, semakin jelas siapa diri kita di hadapan Tuhan.
Meninggalkan Tanah Air
Pukul 06.00 pagi, kami berangkat menuju Bandara Juanda. Kendaraan mulai bergerak meninggalkan tempat persinggahan. Jalan-jalan yang kami lewati sebenarnya adalah jalan biasa, tetapi pagi itu terasa berbeda. Ada perasaan bahwa kami sedang meninggalkan sesuatu yang sangat dekat untuk menuju sesuatu yang selama ini kami rindukan. Rumah, keluarga, pekerjaan, rutinitas, dan berbagai urusan sehari-hari untuk sementara kami tinggalkan. Bukan karena semua itu tidak penting, tetapi karena setiap perjalanan memang membutuhkan keberanian untuk meninggalkan. Beberapa jam kemudian, pukul 10.30, kami berangkat menggunakan pesawat Saudi Arabia menuju Tanah Suci. Saat pesawat mulai bergerak di landasan, rasa haru semakin terasa. Ketika roda pesawat terangkat dari bumi, Indonesia perlahan mengecil di bawah sana. Bangunan menjadi titik-titik kecil, jalan raya menjadi garis, kemudian semuanya tertutup awan. Dari atas sana, manusia tampak begitu kecil. Saya kembali berpikir tentang kehidupan yang selama ini sering kita anggap begitu besar. Pekerjaan, jabatan, target, persoalan, dan berbagai kesibukan terasa penting ketika kita berada di dalamnya. Tetapi dari ketinggian itu semuanya tampak kecil. Mungkin perjalanan ini sedang mengajarkan saya untuk sesekali mengambil jarak dari kehidupan agar dapat melihatnya dengan lebih jernih. Pesawat terus melaju menuju Tanah Suci. Di belakang kami ada rumah dan kehidupan yang sementara ditinggalkan. Di depan kami ada Makkah, Madinah, Ka'bah, dan perjalanan panjang yang belum diketahui bagaimana ceritanya. Yang pasti, sejak pesawat meninggalkan landasan, kami bukan hanya sedang mendekati sebuah negeri. Kami sedang mendekati sebuah panggilan yang selama ini hanya hidup dalam doa. Dan barangkali, pada saat yang sama, kami juga sedang diajak untuk mendekat kepada Allah. (Bersambung)


