Catatan Harian, Opini, dan Pemikiran

Rentang Kala

Catatan Perjalanan, Pikiran, dan Jeda

← Kembali ke Beranda
Oleh: Isomuddin Rosyidi Memuat... 4 komentar

Warung Kopi, Diskusi, dan Spiritualisme Baru

Di sebuah warung kopi di Malang, pada musim liburan kuliah pertengahan tahun, kita bisa melihat mahasiswa berdiskusi, bermain kartu, atau sekadar menikmati kopi hitam setiap malam. Warung itu selalu penuh—sampai pengunjung meluber ke tempat parkir. Ada yang berpakaian khas aktivis, dengan jins robek di lutut dan rambut agak panjang. Ada pula yang berpenampilan akademis, lengkap dengan gaya kewibawaannya. Itulah gambaran lingkungan pinggiran kampus akhir-akhir ini.

Suasana seperti ini hanyalah satu dari banyak kegiatan yang berlangsung di warung-warung kopi, baik di Malang maupun di kota-kota lain. Warung kopi kini menjadi pusat kegiatan masyarakat, terutama mahasiswa. Karena itu, sejumlah pemikir cultural studies menyebut warung kopi sebagai “cathedral of modernism”—katedral zaman modern. Julukan itu terasa makin pas. Di era globalisasi ini, apa yang terjadi di satu tempat cenderung terjadi juga di tempat lain. Yang terjadi di Malang bisa jadi terjadi pula di Jember, Surabaya, Madura, atau di mana saja.

Globalisasi Sebagai Globalisasi

Globalisasi adalah isu besar zaman ini. Banyak pemikir merenungkan persoalan globalisasi, termasuk berbagai konsekuensinya. Menurut Friedman, “ancaman globalisasi saat ini adalah globalisasi itu sendiri.” Maksudnya, sistem globalisasi menyimpan potensi menghancurkan dirinya sendiri. Salah satu sebabnya, globalisasi membuat individu menjadi sangat berdaya. Kondisi ini melahirkan apa yang disebut Friedman sebagai “Super-Empowered Angry Man”—Manusia Marah yang Super Berdaya—pada akhir abad ke-20.

Bagi Amerika, ancaman terbesar saat ini justru datang dari individu-individu semacam itu. Bandingkan dengan masa Perang Dingin (1947–1991): saat itu, hanya negara sebesar Uni Soviet di bawah Stalin yang punya kekuatan untuk berhadapan dengan Amerika. Kini, seorang “Super-Empowered Angry Man” bisa langsung menyerang kekuatan besar itu tanpa perlu kekuatan negara. Inilah konsekuensi logis dari globalisasi: globalisasi mengancam dirinya sendiri.

Persoalan ini menarik perhatian banyak pemikir, baik di ranah praktis maupun teoritis. Salah satunya Francis Fukuyama. Dalam bukunya The Great Disruption (2000), ia menyebut bahwa fase seperti ini pernah terjadi saat masyarakat agraris berubah menjadi masyarakat industri, setelah Revolusi Industri di Amerika dan Inggris. Sekarang, kita sedang mengalami transisi serupa: dari era industri ke era informasi—oleh Alvin Toffler disebut “Third Wave”.

Perubahan dari masyarakat agraris ke industri dulu mengguncang norma-norma sosial secara luar biasa, sampai melahirkan disiplin ilmu baru: sosiologi, yang berusaha memahami perubahan itu. Kini, evolusi itu belum berhenti. Jika perubahan zaman sekarang punya momentum sebesar perubahan zaman dulu, wajar saja bila dampaknya nanti akan sangat besar.

Spiritualisme Baru

Jika masa lalu bisa jadi cermin untuk memahami masa kini, maka peran agama dan kepercayaan patut dipertimbangkan. Kegelisahan menyambut milenium ketiga, yang ramai diberitakan media beberapa tahun terakhir, ternyata memunculkan banyak aliran kepercayaan dan sekte baru, juga berbagai kegiatan spiritual lain. Fenomena ini marak di mana-mana, termasuk di Malang.

Sebenarnya, gejala semacam ini selalu muncul di tengah kegelisahan zaman. Ketika cita-cita utopis tahun 1960-an runtuh oleh krisis, lahirlah gerakan “New Age”. Semangat revolusioner—seperti lagu The Beatles, Revolution—berubah menjadi semangat mistisisme. Umberto Eco, ahli semiotika yang pemikirannya banyak memengaruhi para pemikir masa kini, sampai bertanya-tanya: apakah yang terjadi di paruh kedua 1960-an itu adalah “bab pertama” dari gerakan New Age? Di Barat, sebagian generasi 1960-an itu kini memang menjadi penganut Buddha atau New Age.

Entah disebut New Age atau apa pun, gerakan spiritual yang kini berkembang di kota-kota besar—biasanya berupa meditasi—punya ciri khas: tidak seketat tuntutan agama, tapi lebih “menyenangkan” dibanding filsafat. Sebagai gerakan sinkretik (memadukan berbagai ajaran), gerakan ini menerima kebenaran dari mana saja, tanpa menuntut dasar rasional atau teologi tertentu. Semua kebutuhan spiritual bisa dipenuhi di sana. Dalam logika ekonomi masa kini, hal ini pun dikemas sedemikian rupa hingga bisa “dikonsumsi”—bahkan di warung kopi.

Fukuyama, yang percaya tata sosial baru sedang terbentuk, melihat kebangkitan “agama” semacam ini bukan hanya sebagai reaksi atas kekakuan agama formal, tapi juga karena masyarakat merindukan komunitas yang telah bangkrut atau hilang. Dengan kata lain, orang kembali ke tradisi spiritual bukan karena mendapat pencerahan, melainkan karena kehilangan komunitas. Itulah yang membuat orang haus akan tradisi ritual dan budaya. Ketika seseorang membantu tetangga yang kekurangan atau korban bencana, itu bukan semata karena doktrin agama, melainkan karena ingin melayani komunitasnya. Di titik inilah nilai-nilai lama sedang direkonstruksi.

Dari rangkaian perkembangan ini, para pemikir mencoba mencari formula baru untuk berperan sebagai “Agent of Change”—agen perubahan. Rekonsiliasi baru dari masyarakat yang tercerai-berai akibat globalisasi memang sedang berlangsung, seperti yang selalu dilihat Fukuyama secara optimistis. Eco pun, meski suaranya cenderung sarkastis, tetap menunjukkan “specific optimism” terhadap sejumlah praktik yang membawa kemajuan kecil. Optimisme ini bersumber dari kepercayaan pada komunitas manusia. Dunia belum akan kiamat. Masih ada harapan—meski, seperti kata penutup esai ini, harapan itu ditumpukan di atas sesuatu serapuh bakteri. [Jember, 18-01-2013]

Bagikan Tulisan Ini:

šŸ’¬ Tanggapan Pembaca (4)

šŸ‘¤
Unknown 28 Januari 2013 pukul 06.28
pancet ae gus,. gaya bahasae pyn gak merakyat. Al-Muthawwil hanya cocok dikonsumsi Magister atau Prof-Doctor :) pisss*
šŸ‘¤
Isomuddin Rosyidi 29 Januari 2013 pukul 01.25
Ghus Fatih :
hehehe, maaf sebelumnya, Ghus. Saya tidak tahu selera pasar, dan yang lebih penting, saya menulis asal-asalan, tanpa restu otak saya, hehehe. :)

*Terima kasih atas kedatangan dan komentarnya di blog saya, Ghus.
šŸ‘¤
Unknown 3 Februari 2013 pukul 18.25
gus is :
laen kali undang lagi,. hehe aq hanya bisa kasih masukan :D:D
šŸ‘¤
Isomuddin Rosyidi 6 Februari 2013 pukul 21.52
Enggeh, Ghus. Terima kasih atas masukannya, semoga bisa segera menjebol kebodohan saya yang masih peraawan, hwahaha. :D

Tuliskan Komentar Anda:

Tautan berhasil disalin!