Live Rentang Kala: BBM Riwayatmu Kini..

Rentang Kala

Catatan Perjalanan, Pikiran, dan Jeda

← Kembali ke Beranda
Oleh: Isomuddin Rosyidi Memuat... 0 komentar

BBM Riwayatmu Kini..

 


Pagi ini (07/09/2026), saat berangkat ke kampus, saya sempat berhenti sejenak di jalan dan dari balik kaca mobil, saya lihat pemandangan yang sudah jadi rutinitas belakangan ini: puluhan motor berjejer memenuhi halaman SPBU Pertamina, bahkan sampai meluber ke bahu jalan. Sebagian pengendara masih duduk di jok menunggu giliran, sebagian lagi berdiri sambil mengobrol dengan yang di sebelahnya. Saya sempat mengambil foto dari dasbor mobil—dan dari situ pun terlihat jelas, antrian ini bukan cuma soal orang yang benar-benar kehabisan bensin. Ada yang tangkinya kelihatan masih lumayan, tapi tetap ikut mengantre. Saya jadi bertanya-tanya, mereka ngantre karena benar-benar butuh, atau karena takut kehabisan?

Memang ada isu distribusi BBM yang agak seret belakangan ini, entah karena kuota atau alasan teknis lain. Tapi yang lebih menarik perhatian saya adalah kenapa antrian ini terasa lebih panjang dari yang seharusnya. Sepertinya bukan cuma soal stok yang menipis, tapi juga soal kita yang gampang panik dan ikut-ikutan.

FOMO biasanya lekat dengan dunia media sosial: takut ketinggalan tren, takut tidak punya barang yang lagi viral. Ternyata FOMO ini merembet juga ke urusan sepenting bensin. Begitu ada kabar "BBM mau langka", alarm di kepala banyak orang otomatis menyala: jangan sampai saya yang kehabisan. Padahal belum tentu kondisinya seburuk itu.

Media sosial dan grup WhatsApp jadi pemicu yang mempercepat semua ini. Sekali ada yang mengunggah foto antrian atau video orang berebut BBM, kabar itu menyebar cepat, kadang dibumbui biar terlihat lebih dramatis. Orang yang tadinya santai ikut resah, lalu ikut turun "jaga-jaga" ke SPBU—dan justru karena banyak yang berpikir begitu, antrian jadi benar-benar memanjang, seperti yang saya lihat sendiri pagi ini. Ini lingkaran setan: takut kehabisan, ikut antre, antrian makin panjang, orang lain makin takut, ikut antre lagi. Rasanya seperti nubuat yang menciptakan kenyataannya sendiri.

(Ket: Video Pribadi sembari mendengarkan lagu Earth, Wind & Fire - I'll Write a Song for You)

Dampaknya nyata. Waktu banyak terbuang untuk mengantre, padahal bisa dipakai bekerja atau berangkat lebih awal seperti saya pagi ini. Yang paling dirugikan justru tukang ojek, sopir angkot, dan pekerja harian yang benar-benar mengandalkan BBM untuk mencari nafkah. Mereka tidak punya waktu untuk "jaga-jaga" berjam-jam, tapi tetap kena imbas antrian yang diperpanjang oleh orang-orang yang sebenarnya belum terlalu butuh.

Pola ini bukan hal baru. Dulu ramai soal minyak goreng langka, orang beli banyak-banyak buat stok meski belum tentu langka di daerahnya. Sama juga saat isu gula naik. Sepertinya begitu ada isu kelangkaan, refleks pertama kita bukan mengecek fakta, tapi ikut ambil bagian biar tidak jadi yang paling rugi—padahal tindakan itu sendiri yang kadang membuat kelangkaannya jadi nyata.

Salah satu solusinya mungkin ada di keterbukaan informasi soal stok BBM di suatu wilayah, biar orang tidak mudah termakan kabar burung. Tapi di sisi lain, saya sendiri juga perlu belajar lebih tenang menghadapi info semacam ini. Tidak semua kabar "langka" berarti saya harus buru-buru ikut antre. Kadang yang perlu direm bukan BBM-nya, tapi rasa panik saya sendiri.

Antrian BBM di Jember ini jadi cermin kecil dari cara kita bereaksi terhadap ketidakpastian—bukan cuma soal bensin menipis, tapi soal seberapa gampang kita terbawa rasa takut ketinggalan sebelum sempat mengecek fakta. Tapi kalau kepanikan seperti ini terus berulang setiap kali ada isu kelangkaan, apakah pemerintah sudah punya cara yang benar-benar bisa dipercaya masyarakat, agar kami tidak perlu panik duluan sebelum tahu faktanya?

Bagikan Tulisan Ini:

šŸ’¬ Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada tanggapan untuk tulisan ini. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tuliskan Komentar Anda:

← Halaman Lebih Baru Halaman Terdahulu →

Ikuti Penulis

Tautan berhasil disalin!