Live Rentang Kala: Seni Menertawakan Diri-Sendiri

Rentang Kala

Catatan Perjalanan, Pikiran, dan Jeda

← Kembali ke Beranda
Oleh: Isomuddin Rosyidi Memuat... 1 komentar

Seni Menertawakan Diri-Sendiri


 

Panggung Manusia Sempurna

Coba amati wajah-wajah yang berseliweran di layar ponsel kita: semua tampak tegang, seolah menahan napas di balik senyum yang sudah dipoles algoritma. Di etalase digital, setiap orang berlomba menatah citra sebagai sosok tanpa cela — portofolio dipoles berkilau, deretan penghargaan dipajang laiknya medali perang, dan setiap helaan napas dipaksa berbunyi “produktivitas”. Kita hidup dalam karnaval pencapaian yang melelahkan, tempat kegagalan kecil dianggap aib mematikan, dan jeda istirahat dicurigai sebagai tanda kemalasan.

Obsesi berlebihan terhadap predikat “sukses” ini telah menyandera akal sehat. Sejak belia, kita digiring masuk lintasan pacuan kuda yang tak berujung: menuntut nilai tertinggi, memburu reputasi mentereng, hingga memaksakan diri tampil serbatahu di hadapan khalayak. Manusia modern kehilangan selera humor terhadap dirinya sendiri — rapuh, mudah tersengat kritik sepele, dan panik setengah mati tatkala tirai kepalsuannya tersingkap sedikit saja.

Di balik tumpukan piagam dan piala yang berdebu itu, ada kehampaan batin yang menganga lebar. Kita begitu mahir menertawakan kekurangan orang lain, namun gagap dan kaku ketika harus mengakui kelemahan diri sendiri. Kita lupa bahwa mahkota kebanggaan yang kita panggul dengan dagu terangkat itu sesungguhnya teramat berat — dan sering kali, tampak amat menggelikan bagi semesta.

Belajar Menertawakan Ego

Filsuf eksistensialis SΓΈren Kierkegaard, dalam Concluding Unscientific Postscript (1846, hlm. 258–262), menempatkan humor dan ironi bukan sekadar bumbu percakapan, melainkan tapal batas kesadaran eksistensial yang krusial. Menurutnya, laku humoris adalah jembatan yang menghubungkan wilayah estetis-etis menuju wilayah religius yang sejati. Seseorang yang sanggup menangkap ironi dalam hidupnya menyadari jurang menganga antara ambisi tak terbatas yang dicitrakan egonya dan kenyataan betapa fana serta rapuhnya keberadaan jasmaninya.

Kearifan ini bertaut intim dengan konsep muhasabah dan kerendahan hati dalam khazanah tasawuf. Syekh Ibnu Atha’illah as-Sakandari, dalam Al-Hikam, menyentil manusia yang mabuk oleh amalnya sendiri: “di antara tanda bergantungnya seseorang pada amal perbuatannya adalah berkurangnya harapan tatkala terpeleset dalam kekhilafan.” Tatkala manusia merasa seluruh kemuliaan hidup ditentukan oleh deretan prestasinya, ia sejatinya sedang menuhankan dirinya sendiri — membangun berhala modern dari tumpukan piagam dan sanjungan publik.

Di sinilah seni menertawakan diri sendiri menemukan relevansi emansipatorisnya. Menertawakan diri sendiri bukan ekspresi rendah diri, apalagi keputusasaan yang cengeng. Justru sebaliknya, ia adalah puncak kematangan akal budi: kemampuan menatap ego yang pongah, lalu berkata dengan senyum geli, “Wahai diri, jangan berlagak seperti penopang langit, kamu ini cuma sebutir debu yang kebetulan diberi pinjaman napas.”

Saya pernah menyaksikan sendiri momen semacam ini di sebuah pesantren: seorang kiai sepuh, di tengah pengajian kitab yang khidmat, tiba-tiba salah menyebut nama tokoh dalam riwayat yang sedang dibacanya. Alih-alih menutupinya dengan wibawa, beliau justru tertawa lepas, menepuk jidatnya sendiri, lalu berkata kepada para santri, “Nah, ini bukti kiai juga pelupa — jangan kalian sembah gurunya, sembah ilmunya.” Ruangan yang tadinya kaku seketika mencair oleh tawa. Tak ada yang kehilangan hormat pada beliau; rasa segan itu justru makin dalam, karena kewibawaan sejati ternyata tidak butuh topeng kesempurnaan.

Begitulah kultur khidmah dan humor cerdas ala santri mewujud di bilik-bilik pesantren. Para kiai sepuh tidak memposisikan diri sebagai manusia setengah dewa yang anti-kritik; mereka menjaga kedalaman ilmu justru sambil menertawakan keterbatasan manusiawinya sendiri. Di atas tikar pandan, tawa bersama atas kenaifan diri meluruhkan segala sekat keangkuhan kasta dan gelar sosial.

Merdeka dari Diri Sendiri

Membebaskan diri dari jerat gila prestasi tidak menuntut kita menjadi manusia pemalas tanpa cita-cita. Menuntut ilmu, berkarya, dan memberi manfaat bagi sesama tetaplah kewajiban suci kemanusiaan. Yang perlu kita runtuhkan adalah berhala kesombongan yang membisikkan bahwa harga kemanusiaan kita ditentukan semata-mata oleh validasi angka, trofi, atau tepuk tangan kerumunan.

Berhentilah sejenak dari perlombaan yang membuat napas tersengal-sengal ini. Bila hari ini rencana megah Anda berantakan, bila naskah Anda ditolak, atau bila Anda baru saja melakukan kecerobohan konyol di depan forum terhormat, tarik napas panjang, basuh muka Anda, lalu tersenyumlah di depan cermin. Tertawakanlah kepanikan Anda sendiri.

Sebab pada akhirnya, orang yang paling merdeka di muka bumi ini bukanlah kaisar yang duduk di singgasana reputasi emasnya sembari mencemaskan takhtanya, melainkan jiwa-jiwa hening yang tahu cara berjuang sungguh-sungguh tanpa pernah lupa cara menertawakan keangkuhan dirinya sendiri. [I_R]

Bagikan Tulisan Ini:

πŸ’¬ Tanggapan Pembaca (1)

πŸ‘€
M. Faizi 6 September 2026 pukul 11.59
Salah nyebut nama tokoh siapa itu Kiai? Bon Jovi jadi Bun Jufri? he he

Tuliskan Komentar Anda:

Ikuti Penulis

Tautan berhasil disalin!