Doa di Tengah Malam
Kamis, 14 Mei 2026, tepat pukul 00.00, hari berganti dalam suasana yang berbeda dari biasanya. Malam masih begitu sunyi. Sebagian orang mungkin telah beristirahat, tetapi kami justru berkumpul untuk memulai sebuah perjalanan panjang yang telah lama dinantikan. Pembacaan doa dipimpin oleh Abah. Kami duduk bersama dalam suasana khidmat, menyimak doa-doa yang dilantunkan. Ada rasa syukur karena kesempatan untuk berangkat ke Tanah Suci akhirnya benar-benar datang. Namun, di balik rasa syukur itu ada pula perasaan yang bercampur: haru, bahagia, cemas, dan sedikit rasa tidak percaya. Selama ini Makkah dan Madinah hanya kami kenal melalui cerita, foto, video, dan doa-doa yang sering dipanjatkan. Malam itu, tempat-tempat tersebut perlahan berubah dari sekadar bayangan menjadi tujuan yang benar-benar akan kami datangi. Saya merasa bahwa perjalanan Haji sesungguhnya telah dimulai bahkan sebelum kaki meninggalkan rumah. Ia dimulai dari niat dan doa. Koper mungkin sudah dipenuhi pakaian dan berbagai kebutuhan, tetapi bekal yang paling penting justru tidak terlihat. Kesabaran, keikhlasan, kesehatan, dan hati yang siap menerima segala sesuatu menjadi bekal yang jauh lebih berharga. Malam itu kami seperti sedang menyerahkan perjalanan ini kepada Allah. Kami boleh membuat rencana, tetapi pada akhirnya Allah yang menentukan bagaimana perjalanan itu akan berlangsung.
Delapan Pack yang Tertinggal
Pagi harinya, Kamis, 14 Mei 2026, sekitar pukul 09.00, kami check-in di Sukolilo. Suasana mulai terasa lebih sibuk. Koper dan barang bawaan diperiksa, dokumen dipastikan kembali, dan masing-masing mulai mengurus kebutuhan perjalanan. Namun, di tengah persiapan yang serius itu, muncul sebuah kejadian kecil yang kelak mungkin justru menjadi cerita yang paling mudah diingat. Rokok titipan Kak Fandi terkena razia Bea Cukai. Sebanyak delapan pack Surya 12 disita oleh petugas. Sedikit kecewa tentu saja. Barang sudah dibawa sebagai titipan, tetapi ternyata tidak semuanya bisa ikut melanjutkan perjalanan. Namun, begitulah perjalanan. Tidak semua yang kita rencanakan akan sampai bersama kita. Ada barang yang harus ditinggalkan, ada keinginan yang harus direlakan, dan ada rencana yang tiba-tiba berubah karena keadaan. Delapan pack rokok itu memang bukan sesuatu yang besar dibandingkan tujuan perjalanan yang sedang kami tempuh. Tetapi kejadian kecil tersebut terasa seperti pelajaran pembuka: jangan terlalu yakin bahwa semua akan berjalan persis seperti yang kita inginkan. Dalam perjalanan, kita perlu belajar menerima. Bahkan mungkin dalam kehidupan pun demikian. Kita sering sibuk menentukan apa yang ingin dibawa, apa yang ingin dimiliki, dan apa yang ingin dicapai. Padahal, ada kalanya perjalanan justru meminta kita untuk melepaskan. Delapan pack Surya 12 akhirnya tidak ikut terbang, tetapi ceritanya ikut berangkat bersama kami. (Bersambung)