Catatan Harian, Opini, dan Pemikiran

Rentang Kala

Catatan Perjalanan, Pikiran, dan Jeda

← Kembali ke Beranda
Oleh: Isomuddin Rosyidi Memuat... 0 komentar

Mendidik bukan Menghardik, Meneladani bukan Memaki

 


Ada sesuatu yang berubah di sekitar kita, pelan tapi terasa. Bukan hanya soal teknologi yang makin cepat, atau kurikulum yang terus berganti, melainkan cara kita bertutur. Di rumah, di sekolah, bahkan di ruang digital, suara manusia seperti kehilangan rem. Kata-kata yang semestinya menjadi jembatan, justru sering dipakai sebagai palu. Dalam banyak keluarga, “mendidik” diam-diam bergeser maknanya: bukan lagi menuntun, melainkan menekan. Bukan lagi memahamkan, melainkan memenangkan. Maka tidak heran kalau hardikan sering dianggap normal, seolah suara keras adalah bukti kepedulian.

Coba lihat adegan yang makin lazim: orang tua meledak karena anak kecanduan gawai atau game. Jam belajar jadi arena perang, bukan ruang tumbuh. Anak diminta “berhenti sekarang juga”, tetapi yang terdengar bukan instruksi, melainkan ledakan emosi yang menumpahkan lelah, cemas, dan ketakutan orang dewasa sendiri. Dalam momen itu, masalahnya bukan lagi soal screen time, melainkan soal relasi. Anak bukan dituntun mengelola keinginan, tapi dipaksa tunduk lewat rasa takut.

Di sekolah, cerita serupa berulang dengan kostum berbeda. Ada guru yang memarahi murid di depan kelas, suaranya meninggi, kalimatnya menusuk. Lalu seseorang merekam. Video itu menyebar, ditonton ribuan kali, disertai komentar yang kadang lebih kasar daripada amarah di kelas. Yang menyedihkan, banyak orang menanggapinya dengan ringan: “Namanya juga mendidik.” Padahal yang terjadi bukan mendidik, tetapi mempermalukan—dan itu meninggalkan bekas yang tidak selalu terlihat di rapor.

Ruang digital juga ikut menyumbang bahan bakar. Grup WhatsApp orang tua murid, yang seharusnya menjadi kanal koordinasi, sering berubah menjadi arena saling sindir. Ada kalimat-kalimat pasif-agresif, “Kalau anaknya tidak siap sekolah, jangan ganggu yang lain,” atau “Orang tua sekarang maunya enak saja.” Mungkin maksudnya menegur, tetapi bentuknya memaki. Akhirnya yang tumbuh bukan kerja sama, melainkan ketegangan kolektif: guru merasa tidak dihargai, orang tua merasa diserang, dan anak menjadi pusat tekanan.

Yang lebih mengkhawatirkan, budaya “mendidik = membentak” kerap diwariskan tanpa sadar. Dulu orang tua dibesarkan dalam disiplin keras, lalu mengulangnya dengan keyakinan: “Aku dulu dibentak juga jadi orang.” Logika ini terdengar meyakinkan, tapi sesungguhnya menyimpan bias: kita tidak pernah benar-benar tahu luka apa yang ikut terbawa, hanya karena seseorang terlihat “baik-baik saja” di permukaan. Lebih ironis lagi ketika konten parenting “keras biar sukses” viral di media sosial: potongan video pendek, kata-kata tegas tanpa konteks, lalu disimpulkan sebagai resep emas membentuk anak tangguh. Padahal ketangguhan tidak selalu lahir dari tekanan, sering kali justru lahir dari rasa aman.

Di tengah semua itu, tekanan ranking dan akademik memperkeruh hubungan. Sekolah mengejar angka, orang tua mengejar prestasi, anak mengejar napas. Relasi guru-murid menjadi tegang karena target, relasi orang tua-anak menjadi panas karena ekspektasi. Dan ketika target tidak tercapai, yang keluar sering kali bukan evaluasi, melainkan emosi. Kita hidup di zaman cepat marah, tetapi miskin ruang untuk mendengar. Seperti kota yang lampunya terang, tapi hatinya gelap.

Luka yang Tidak Berdarah: Sains Perkembangan dan Cahaya Islam

Dalam psikologi perkembangan, cara orang dewasa berbicara kepada anak bukan sekadar “gaya komunikasi”; ia ikut membentuk fondasi emosi dan karakter. Pola asuh yang dibahas Diana Baumrind menunjukkan perbedaan penting antara otoritatif (tegas tapi hangat) dan otoriter (keras, kaku, menuntut tanpa ruang dialog) (Baumrind, 1991). Yang pertama membangun disiplin sekaligus kedekatan; yang kedua sering menghasilkan kepatuhan semu—anak terlihat menurut, tapi di dalamnya bisa tumbuh kecemasan atau pemberontakan diam-diam. Konsep ini kemudian diperkaya dalam kerangka dua dimensi: tuntutan dan responsivitas (Maccoby & Martin, 1983). Anak butuh batas, tetapi juga butuh rasa dipahami.

Di sinilah kita perlu membedakan “tegas” dan “keras”. Tegas itu jelas, konsisten, dan terarah: aturan dibuat, konsekuensi dipahami, nada tetap manusiawi. Keras itu meledak, merendahkan, dan sering tidak proporsional: aturan muncul bersama amarah, lalu anak dipaksa menerima dengan rasa takut. Tegas menuntun; keras menghantam. Disiplin adalah proses belajar; menghina adalah proses melukai.

Dari sisi otak dan emosi, hardikan bukan sekadar “kata-kata”. Ketika anak dibentak atau dipermalukan, tubuhnya bisa masuk ke mode stress respons—reaksi “lawan atau lari” yang membuat otak sulit berpikir jernih. Anak jadi lebih reaktif, bukan reflektif. Pada kondisi seperti itu, pusat emosi bekerja lebih dominan dibanding bagian otak yang mengatur perencanaan dan kontrol diri. Daniel Goleman menjelaskan bagaimana emosi yang meledak bisa “membajak” kemampuan berpikir (Goleman, 1995). Maka anak yang dimarahi sering tidak benar-benar belajar makna kesalahan, yang ia pelajari justru cara bertahan dari rasa terancam.

Lebih jauh, berbagai kajian menunjukkan bahwa disiplin keras—termasuk hukuman fisik dan agresi verbal—berkaitan dengan risiko masalah perilaku dan emosi yang lebih tinggi (Gershoff & Grogan-Kaylor, 2016). Lembaga kesehatan anak seperti American Academy of Pediatrics juga menegaskan bahwa hukuman fisik tidak efektif dan terkait dampak negatif, sehingga mendorong pendekatan disiplin yang lebih sehat (AAP, 2018). WHO pun memasukkan kekerasan terhadap anak—termasuk kekerasan emosional—sebagai masalah serius yang merusak perkembangan dan martabat anak (WHO, 2024). APA menekankan bahwa kekerasan dan maltreatment, termasuk aspek emosional, dapat menimbulkan dampak jangka panjang bagi kesehatan psikologis anak (APA, t.t.). Laporan UNICEF juga memperlihatkan bahwa kekerasan dalam disiplin masih luas terjadi di berbagai tempat, seakan menjadi kebiasaan budaya yang sulit diputus (UNICEF, 2014).

Pada titik ini, kita sadar: makian bukan sekadar “keras di awal biar nanti baik.” Ia bisa menjadi luka yang tidak berdarah, tetapi merusak cara anak memandang diri. Haim Ginott pernah menekankan pentingnya bahasa yang tidak mempermalukan, karena komunikasi orang dewasa membentuk citra diri anak (Ginott, 1965). Anak yang terus-menerus dipanggil “pemalas”, “bodoh”, atau “bandel”, lama-lama tidak hanya mendengar kata itu—ia percaya itu. Dan ketika identitas terbentuk dari label negatif, pendidikan berubah menjadi penjara batin.

Yang menarik, nilai-nilai ini justru sangat selaras dengan Islam. Al-Qur’an tidak mengajarkan dakwah dengan bentakan, apalagi pendidikan dengan cacian. QS. An-Nahl:125 menegaskan metode “bil hikmah” dan “mau‘izhah hasanah”—kebijaksanaan dan nasihat yang baik. QS. Ali Imran:159 menyebut kelembutan sebagai sebab orang-orang mau mendekat; bahkan Nabi diperintahkan untuk bersikap lemah lembut. QS. Al-Hujurat:11 melarang merendahkan dan mengejek, karena itu merusak kehormatan manusia. Dan QS. Luqman:13–19 memperlihatkan potret pendidikan yang sangat indah: Luqman menasihati anaknya dengan panggilan penuh kasih “ya bunayya”, menanamkan tauhid, adab, kesederhanaan suara, hingga etika sosial.

Rasulullah ļ·ŗ sendiri memberi teladan yang nyaris “mustahil” jika dibandingkan standar emosi kita hari ini: beliau menyayangi anak-anak, memangku cucu, membiarkan mereka bermain, bahkan tetap lembut ketika situasi tidak ideal. Ada hadits shahih yang menjadi kompas: “Sesungguhnya kelembutan tidaklah ada pada sesuatu kecuali menghiasinya…” (HR. Muslim). Kelembutan bukan tanda lemah, melainkan kualitas jiwa yang matang. Dalam pendidikan, kelembutan adalah strategi paling dalam: ia membuat anak merasa aman untuk belajar, bukan takut untuk salah.

Ulama juga menaruh perhatian besar pada adab lisan. Imam Al-Ghazali menekankan bahwa lisan adalah pintu besar yang bisa menjerumuskan manusia jika tidak dijaga, dan pendidikan akhlak bertumpu pada pembiasaan yang lembut namun konsisten (Al-Ghazali, t.t.). Ibn Qayyim membahas pentingnya tarbiyah hati dan pembentukan karakter melalui kasih sayang dan pemahaman kondisi jiwa anak, bukan sekadar paksaan (Ibn Qayyim, t.t.). Imam Nawawi, dalam penekanan tentang adab dan akhlak, mengingatkan betapa seriusnya dampak kata-kata yang melukai kehormatan orang lain (An-Nawawi, t.t.).

Ada satu syair dibuat oleh Ibn Ruslan dalam kitab Zubad yang sering dibaca di Kalangan Pesantren:

نِŲ¹َŁ…ُ ال؄ِŁ„َهِ Ų¹َŁ„َى العِŲØَŲ§ŲÆِ كَŲ«ِيرَŲ©ٌ  - وَŲ£َŲ¬َŁ„ُّهَŲ§ نَŲ¬َŲ§ŲØَŲ©ُ الأَŲØْنَŲ§Ų”ِ

“Nikmat Allah pada hamba sangat banyak, dan yang paling agung adalah baiknya anak-anak.”

Syair ini bukan sekadar kalimat indah; ini sebuah sudut pandang. Anak yang baik bukan produk “bentakan”, melainkan hasil tarbiyah yang memuliakan manusia. Kalau anak adalah nikmat terbesar, mengapa kita merawatnya dengan cara yang paling keras?

Mengasuh dengan Teladan: Disiplin Tanpa Menghancurkan Martabat

Setelah memahami luka yang ditimbulkan hardikan, pertanyaan berikutnya sederhana namun menantang: lalu bagaimana caranya mendidik tanpa menghardik? Jawabannya bukan “membiarkan anak sebebasnya,” karena itu juga bukan pendidikan. Kita tetap butuh batas. Tapi batas yang memanusiakan.

Dalam praktik sehari-hari, disiplin yang sehat dimulai dari cara kita hadir. Ketika anak kecanduan gawai, misalnya, kita boleh tegas: ada aturan waktu, ada konsekuensi logis, dan ada komitmen orang tua ikut menjaga konsistensi. Tetapi ketika yang muncul adalah kalimat “Kamu ini bodoh banget sih!” kita sudah keluar jalur. Tegas itu berisi aturan; keras itu berisi penghinaan. Tegas menargetkan perilaku; keras menyerang identitas. Anak perlu tahu “apa yang salah”, bukan diyakinkan bahwa “dirinya yang salah”.

Di sekolah, guru tetap boleh menegur murid yang mengganggu kelas, bahkan memberi konsekuensi. Namun mempermalukan di depan teman-teman—apalagi sambil melabeli—sering hanya memindahkan masalah: kelas memang hening, tetapi hati anak ribut. Lebih efektif jika guru bisa memisahkan perilaku dari harga diri: “Perilakumu mengganggu. Kita bicarakan setelah pelajaran.” Kalimat seperti ini bukan memanjakan, justru menunjukkan wibawa yang tenang. Wibawa tidak selalu identik dengan suara tinggi; kadang wibawa lahir dari kontrol diri.

Di grup WA orang tua, komunikasi beradab juga menjadi bagian dari pendidikan kolektif. Anak-anak belajar dari atmosfer orang dewasa. Jika orang tua saling menyindir dan memaki, lalu menuntut anak berbahasa santun, itu kontradiksi yang lucu sekaligus menyakitkan. Kita boleh mengkritik, tetapi jangan menguliti. Kita boleh berbeda pendapat, tetapi jangan membunuh martabat. Inilah pendidikan sosial yang sering luput: anak tidak hanya dibentuk oleh keluarga, tetapi oleh budaya percakapan komunitas.

Solusi yang paling sulit sebenarnya bukan teknik, melainkan keberanian untuk bercermin. Banyak hardikan muncul bukan karena anak “kurang ajar”, tetapi karena orang dewasa sedang penuh: penuh lelah, penuh tuntutan, penuh luka masa kecil yang belum selesai. Di sinilah teladan bekerja. Anak belajar regulasi emosi bukan dari nasihat panjang, tetapi dari cara kita mengelola marah. Kita bisa berkata, “Ayah/Ibu sedang kesal. Kita jeda dulu, nanti kita bicara.” Kalimat ini sederhana, tetapi revolusioner. Ia mengajarkan bahwa marah boleh, melukai tidak.

Budaya rumah dan sekolah juga perlu dirancang untuk mendidik, bukan sekadar mengontrol. Kalau target akademik membuat relasi tegang, mungkin bukan anaknya yang bermasalah, tetapi sistem ekspektasi kita yang terlalu sempit. Pendidikan seharusnya membentuk manusia utuh: akal, emosi, dan akhlak. UNICEF dan berbagai lembaga mendorong pendekatan disiplin positif yang mengurangi kekerasan dan menekankan pembelajaran perilaku melalui batas yang jelas dan hubungan yang aman (UNICEF, 2014). Ini sejalan dengan Islam: tarbiyah bukan hanya memerintah, tetapi menumbuhkan.

Pada akhirnya, pendidikan adalah proses memanusiakan, bukan melukai. Kita boleh ingin anak sukses, tetapi jangan menukar sukses dengan luka batin. Kita boleh ingin anak disiplin, tetapi jangan menukar disiplin dengan penghinaan. Kelembutan bukan berarti tanpa batas, dan ketegasan bukan berarti tanpa adab. Justru kombinasi keduanya yang melahirkan manusia dewasa: tegas dalam aturan, lembut dalam cara.

Maka mungkin kalimat paling jujur untuk kita ulang setiap hari adalah ini: anak bukan mendengar siapa kita dari ceramah kita, melainkan membaca siapa kita dari cara kita bicara saat marah. Dan ketika mulut kita memilih memaki, kita sedang mengajari mereka satu pelajaran yang tidak pernah tertulis di buku sekolah: bahwa kekerasan adalah bahasa yang sah. Pendidikan seharusnya membatalkan pelajaran itu—dengan teladan, dengan adab, dan dengan keberanian untuk berkata lembut tanpa kehilangan wibawa. Tabik! [I_R]


Bagikan Tulisan Ini:

šŸ’¬ Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada tanggapan untuk tulisan ini. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tuliskan Komentar Anda:

Tautan berhasil disalin!