Ada
sesuatu yang berubah di sekitar kita, pelan tapi terasa. Bukan hanya soal
teknologi yang makin cepat, atau kurikulum yang terus berganti, melainkan cara
kita bertutur. Di rumah, di sekolah, bahkan di ruang digital, suara manusia
seperti kehilangan rem. Kata-kata yang semestinya menjadi jembatan, justru
sering dipakai sebagai palu. Dalam banyak keluarga, “mendidik” diam-diam
bergeser maknanya: bukan lagi menuntun, melainkan menekan. Bukan lagi
memahamkan, melainkan memenangkan. Maka tidak heran kalau hardikan sering
dianggap normal, seolah suara keras adalah bukti kepedulian.
Coba
lihat adegan yang makin lazim: orang tua meledak karena anak kecanduan gawai
atau game. Jam belajar jadi arena perang, bukan ruang tumbuh. Anak diminta
“berhenti sekarang juga”, tetapi yang terdengar bukan instruksi, melainkan
ledakan emosi yang menumpahkan lelah, cemas, dan ketakutan orang dewasa
sendiri. Dalam momen itu, masalahnya bukan lagi soal screen time, melainkan
soal relasi. Anak bukan dituntun mengelola keinginan, tapi dipaksa tunduk lewat
rasa takut.
Di
sekolah, cerita serupa berulang dengan kostum berbeda. Ada guru yang memarahi
murid di depan kelas, suaranya meninggi, kalimatnya menusuk. Lalu seseorang
merekam. Video itu menyebar, ditonton ribuan kali, disertai komentar yang
kadang lebih kasar daripada amarah di kelas. Yang menyedihkan, banyak orang
menanggapinya dengan ringan: “Namanya juga mendidik.” Padahal yang terjadi
bukan mendidik, tetapi mempermalukan—dan itu meninggalkan bekas yang tidak
selalu terlihat di rapor.
Ruang
digital juga ikut menyumbang bahan bakar. Grup WhatsApp orang tua murid, yang
seharusnya menjadi kanal koordinasi, sering berubah menjadi arena saling
sindir. Ada kalimat-kalimat pasif-agresif, “Kalau anaknya tidak siap sekolah,
jangan ganggu yang lain,” atau “Orang tua sekarang maunya enak saja.” Mungkin
maksudnya menegur, tetapi bentuknya memaki. Akhirnya yang tumbuh bukan kerja
sama, melainkan ketegangan kolektif: guru merasa tidak dihargai, orang tua
merasa diserang, dan anak menjadi pusat tekanan.
Yang
lebih mengkhawatirkan, budaya “mendidik = membentak” kerap diwariskan tanpa
sadar. Dulu orang tua dibesarkan dalam disiplin keras, lalu mengulangnya dengan
keyakinan: “Aku dulu dibentak juga jadi orang.” Logika ini terdengar
meyakinkan, tapi sesungguhnya menyimpan bias: kita tidak pernah benar-benar
tahu luka apa yang ikut terbawa, hanya karena seseorang terlihat “baik-baik
saja” di permukaan. Lebih ironis lagi ketika konten parenting “keras biar
sukses” viral di media sosial: potongan video pendek, kata-kata tegas tanpa
konteks, lalu disimpulkan sebagai resep emas membentuk anak tangguh. Padahal
ketangguhan tidak selalu lahir dari tekanan, sering kali justru lahir dari rasa
aman.
Di
tengah semua itu, tekanan ranking dan akademik memperkeruh hubungan. Sekolah
mengejar angka, orang tua mengejar prestasi, anak mengejar napas. Relasi
guru-murid menjadi tegang karena target, relasi orang tua-anak menjadi panas
karena ekspektasi. Dan ketika target tidak tercapai, yang keluar sering kali
bukan evaluasi, melainkan emosi. Kita hidup di zaman cepat marah, tetapi miskin
ruang untuk mendengar. Seperti kota yang lampunya terang, tapi hatinya gelap.
Luka
yang Tidak Berdarah: Sains Perkembangan dan Cahaya Islam
Dalam
psikologi perkembangan, cara orang dewasa berbicara kepada anak bukan sekadar
“gaya komunikasi”; ia ikut membentuk fondasi emosi dan karakter. Pola asuh yang
dibahas Diana Baumrind menunjukkan perbedaan penting antara otoritatif (tegas
tapi hangat) dan otoriter (keras, kaku, menuntut tanpa ruang dialog) (Baumrind,
1991). Yang pertama membangun disiplin sekaligus kedekatan; yang kedua sering
menghasilkan kepatuhan semu—anak terlihat menurut, tapi di dalamnya bisa tumbuh
kecemasan atau pemberontakan diam-diam. Konsep ini kemudian diperkaya dalam
kerangka dua dimensi: tuntutan dan responsivitas (Maccoby & Martin, 1983).
Anak butuh batas, tetapi juga butuh rasa dipahami.
Di
sinilah kita perlu membedakan “tegas” dan “keras”. Tegas itu jelas, konsisten,
dan terarah: aturan dibuat, konsekuensi dipahami, nada tetap manusiawi. Keras
itu meledak, merendahkan, dan sering tidak proporsional: aturan muncul bersama
amarah, lalu anak dipaksa menerima dengan rasa takut. Tegas menuntun; keras
menghantam. Disiplin adalah proses belajar; menghina adalah proses melukai.
Dari
sisi otak dan emosi, hardikan bukan sekadar “kata-kata”. Ketika anak dibentak
atau dipermalukan, tubuhnya bisa masuk ke mode stress respons—reaksi “lawan
atau lari” yang membuat otak sulit berpikir jernih. Anak jadi lebih reaktif,
bukan reflektif. Pada kondisi seperti itu, pusat emosi bekerja lebih dominan
dibanding bagian otak yang mengatur perencanaan dan kontrol diri. Daniel
Goleman menjelaskan bagaimana emosi yang meledak bisa “membajak” kemampuan
berpikir (Goleman, 1995). Maka anak yang dimarahi sering tidak benar-benar
belajar makna kesalahan, yang ia pelajari justru cara bertahan dari rasa
terancam.
Lebih
jauh, berbagai kajian menunjukkan bahwa disiplin keras—termasuk hukuman fisik
dan agresi verbal—berkaitan dengan risiko masalah perilaku dan emosi yang lebih
tinggi (Gershoff & Grogan-Kaylor, 2016). Lembaga kesehatan anak seperti
American Academy of Pediatrics juga menegaskan bahwa hukuman fisik tidak
efektif dan terkait dampak negatif, sehingga mendorong pendekatan disiplin yang
lebih sehat (AAP, 2018). WHO pun memasukkan kekerasan terhadap anak—termasuk
kekerasan emosional—sebagai masalah serius yang merusak perkembangan dan
martabat anak (WHO, 2024). APA menekankan bahwa kekerasan dan maltreatment,
termasuk aspek emosional, dapat menimbulkan dampak jangka panjang bagi
kesehatan psikologis anak (APA, t.t.). Laporan UNICEF juga memperlihatkan bahwa
kekerasan dalam disiplin masih luas terjadi di berbagai tempat, seakan menjadi
kebiasaan budaya yang sulit diputus (UNICEF, 2014).
Pada
titik ini, kita sadar: makian bukan sekadar “keras di awal biar nanti baik.” Ia
bisa menjadi luka yang tidak berdarah, tetapi merusak cara anak memandang diri.
Haim Ginott pernah menekankan pentingnya bahasa yang tidak mempermalukan,
karena komunikasi orang dewasa membentuk citra diri anak (Ginott, 1965). Anak
yang terus-menerus dipanggil “pemalas”, “bodoh”, atau “bandel”, lama-lama tidak
hanya mendengar kata itu—ia percaya itu. Dan ketika identitas terbentuk dari
label negatif, pendidikan berubah menjadi penjara batin.
Yang
menarik, nilai-nilai ini justru sangat selaras dengan Islam. Al-Qur’an tidak
mengajarkan dakwah dengan bentakan, apalagi pendidikan dengan cacian. QS.
An-Nahl:125 menegaskan metode “bil hikmah” dan “mau‘izhah hasanah”—kebijaksanaan
dan nasihat yang baik. QS. Ali Imran:159 menyebut kelembutan sebagai sebab
orang-orang mau mendekat; bahkan Nabi diperintahkan untuk bersikap lemah
lembut. QS. Al-Hujurat:11 melarang merendahkan dan mengejek, karena itu merusak
kehormatan manusia. Dan QS. Luqman:13–19 memperlihatkan potret pendidikan yang
sangat indah: Luqman menasihati anaknya dengan panggilan penuh kasih “ya
bunayya”, menanamkan tauhid, adab, kesederhanaan suara, hingga etika
sosial.
Rasulullah
ļ·ŗ sendiri
memberi teladan yang nyaris “mustahil” jika dibandingkan standar emosi kita
hari ini: beliau menyayangi anak-anak, memangku cucu, membiarkan mereka
bermain, bahkan tetap lembut ketika situasi tidak ideal. Ada hadits shahih yang
menjadi kompas: “Sesungguhnya kelembutan tidaklah ada pada sesuatu kecuali
menghiasinya…” (HR. Muslim). Kelembutan bukan tanda lemah, melainkan kualitas
jiwa yang matang. Dalam pendidikan, kelembutan adalah strategi paling dalam: ia
membuat anak merasa aman untuk belajar, bukan takut untuk salah.
Ulama
juga menaruh perhatian besar pada adab lisan. Imam Al-Ghazali menekankan bahwa
lisan adalah pintu besar yang bisa menjerumuskan manusia jika tidak dijaga, dan
pendidikan akhlak bertumpu pada pembiasaan yang lembut namun konsisten
(Al-Ghazali, t.t.). Ibn Qayyim membahas pentingnya tarbiyah hati dan
pembentukan karakter melalui kasih sayang dan pemahaman kondisi jiwa anak,
bukan sekadar paksaan (Ibn Qayyim, t.t.). Imam Nawawi, dalam penekanan tentang
adab dan akhlak, mengingatkan betapa seriusnya dampak kata-kata yang melukai
kehormatan orang lain (An-Nawawi, t.t.).
Ada
satu syair dibuat oleh Ibn Ruslan dalam kitab Zubad yang sering dibaca di
Kalangan Pesantren:
“ŁِŲ¹َŁ
ُ
Ų§ŁŲ„ِŁَŁِ Ų¹َŁَŁ Ų§ŁŲ¹ِŲØَŲ§ŲÆِ ŁَŲ«ِŁŲ±َŲ©ٌ - ŁَŲ£َŲ¬َŁُّŁَŲ§ ŁَŲ¬َŲ§ŲØَŲ©ُ
Ų§ŁŲ£َŲØْŁَŲ§Ų”ِ
“Nikmat Allah pada hamba sangat banyak, dan yang paling
agung adalah baiknya anak-anak.”
Syair ini
bukan sekadar kalimat indah; ini sebuah sudut pandang. Anak yang baik bukan
produk “bentakan”, melainkan hasil tarbiyah yang memuliakan manusia. Kalau anak
adalah nikmat terbesar, mengapa kita merawatnya dengan cara yang paling keras?
Mengasuh
dengan Teladan: Disiplin Tanpa Menghancurkan Martabat
Setelah
memahami luka yang ditimbulkan hardikan, pertanyaan berikutnya sederhana namun
menantang: lalu bagaimana caranya mendidik tanpa menghardik? Jawabannya bukan
“membiarkan anak sebebasnya,” karena itu juga bukan pendidikan. Kita tetap
butuh batas. Tapi batas yang memanusiakan.
Dalam
praktik sehari-hari, disiplin yang sehat dimulai dari cara kita hadir. Ketika
anak kecanduan gawai, misalnya, kita boleh tegas: ada aturan waktu, ada
konsekuensi logis, dan ada komitmen orang tua ikut menjaga konsistensi. Tetapi
ketika yang muncul adalah kalimat “Kamu ini bodoh banget sih!” kita sudah
keluar jalur. Tegas itu berisi aturan; keras itu berisi penghinaan. Tegas
menargetkan perilaku; keras menyerang identitas. Anak perlu tahu “apa yang
salah”, bukan diyakinkan bahwa “dirinya yang salah”.
Di
sekolah, guru tetap boleh menegur murid yang mengganggu kelas, bahkan memberi
konsekuensi. Namun mempermalukan di depan teman-teman—apalagi sambil
melabeli—sering hanya memindahkan masalah: kelas memang hening, tetapi hati
anak ribut. Lebih efektif jika guru bisa memisahkan perilaku dari harga diri:
“Perilakumu mengganggu. Kita bicarakan setelah pelajaran.” Kalimat seperti ini
bukan memanjakan, justru menunjukkan wibawa yang tenang. Wibawa tidak selalu
identik dengan suara tinggi; kadang wibawa lahir dari kontrol diri.
Di grup
WA orang tua, komunikasi beradab juga menjadi bagian dari pendidikan kolektif.
Anak-anak belajar dari atmosfer orang dewasa. Jika orang tua saling menyindir
dan memaki, lalu menuntut anak berbahasa santun, itu kontradiksi yang lucu
sekaligus menyakitkan. Kita boleh mengkritik, tetapi jangan menguliti. Kita
boleh berbeda pendapat, tetapi jangan membunuh martabat. Inilah pendidikan
sosial yang sering luput: anak tidak hanya dibentuk oleh keluarga, tetapi oleh
budaya percakapan komunitas.
Solusi
yang paling sulit sebenarnya bukan teknik, melainkan keberanian untuk
bercermin. Banyak hardikan muncul bukan karena anak “kurang ajar”, tetapi
karena orang dewasa sedang penuh: penuh lelah, penuh tuntutan, penuh luka masa
kecil yang belum selesai. Di sinilah teladan bekerja. Anak belajar regulasi
emosi bukan dari nasihat panjang, tetapi dari cara kita mengelola marah. Kita
bisa berkata, “Ayah/Ibu sedang kesal. Kita jeda dulu, nanti kita bicara.”
Kalimat ini sederhana, tetapi revolusioner. Ia mengajarkan bahwa marah boleh,
melukai tidak.
Budaya
rumah dan sekolah juga perlu dirancang untuk mendidik, bukan sekadar
mengontrol. Kalau target akademik membuat relasi tegang, mungkin bukan anaknya
yang bermasalah, tetapi sistem ekspektasi kita yang terlalu sempit. Pendidikan
seharusnya membentuk manusia utuh: akal, emosi, dan akhlak. UNICEF dan berbagai
lembaga mendorong pendekatan disiplin positif yang mengurangi kekerasan dan
menekankan pembelajaran perilaku melalui batas yang jelas dan hubungan yang
aman (UNICEF, 2014). Ini sejalan dengan Islam: tarbiyah bukan hanya memerintah,
tetapi menumbuhkan.
Pada
akhirnya, pendidikan adalah proses memanusiakan, bukan melukai. Kita boleh
ingin anak sukses, tetapi jangan menukar sukses dengan luka batin. Kita boleh
ingin anak disiplin, tetapi jangan menukar disiplin dengan penghinaan.
Kelembutan bukan berarti tanpa batas, dan ketegasan bukan berarti tanpa adab.
Justru kombinasi keduanya yang melahirkan manusia dewasa: tegas dalam aturan,
lembut dalam cara.
Maka
mungkin kalimat paling jujur untuk kita ulang setiap hari adalah ini: anak
bukan mendengar siapa kita dari ceramah kita, melainkan membaca siapa kita dari
cara kita bicara saat marah. Dan ketika mulut kita memilih memaki, kita sedang
mengajari mereka satu pelajaran yang tidak pernah tertulis di buku sekolah:
bahwa kekerasan adalah bahasa yang sah. Pendidikan seharusnya membatalkan
pelajaran itu—dengan teladan, dengan adab, dan dengan keberanian untuk berkata
lembut tanpa kehilangan wibawa. Tabik! [I_R]
