Identitas Buku
Judul: Speaking in God's Name: Islamic Law, Authority, and Women
Penulis: Khaled Abou El Fadl
Penerbit: Oneworld Publications, Oxford
Tahun Terbit: 2001
Tebal Buku: 320 halaman
Bidang Kajian: Hukum Islam, otoritas keagamaan, studi gender dalam Islam
Buku Speaking in God's Name lahir dari kegelisahan yang sangat aktual: mengapa agama, yang sejatinya membawa pesan keadilan dan kasih sayang, sering kali tampil dengan wajah keras, menakutkan, dan menutup ruang dialog? Khaled Abou El Fadl tidak sedang menggugat Al-Qur'an atau syariat, melainkan menggugat cara sebagian manusia berbicara atas nama Tuhan dengan penuh kepastian, seolah-olah suara Tuhan telah selesai dan terkunci di mulut mereka.
Sejak halaman awal, pembaca diajak menyadari satu hal mendasar: tafsir manusia tidak pernah identik dengan kehendak Tuhan. Namun dalam praktik keagamaan sehari-hari, perbedaan ini sering dihapus. Fatwa, ceramah, dan nasihat keagamaan kerap disampaikan bukan sebagai hasil ijtihad, melainkan sebagai "keputusan langit" yang tak boleh dipersoalkan.
Di sinilah letak penting buku ini. Abou El Fadl berusaha mengembalikan agama ke ruang etika, bukan sekadar ruang kuasa.
Otoritas, Tafsir, dan Tanggung Jawab Moral
Gagasan sentral buku ini adalah pembedaan tajam antara otoritas yang sah (authoritative) dan otoritarianisme agama (authoritarian). Menurut Abou El Fadl, otoritas dalam Islam tidak lahir dari klaim sepihak atau simbol keagamaan, melainkan dari integritas moral, kapasitas keilmuan, dan kerendahan hati intelektual.
Ia menulis bahwa Al-Qur'an tidak pernah memberikan mandat kepada manusia untuk berbicara menggantikan Tuhan, melainkan mengajak manusia terlibat dalam proses pemahaman yang penuh tanggung jawab. Tafsir adalah amanah, bukan lisensi absolut.
Argumen ini selaras dengan prinsip dasar Al-Qur'an tentang keterbatasan pengetahuan manusia:
Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan kecuali sedikit. (QS. Al-Isra': 85)
Ayat ini menjadi fondasi etis yang kuat bagi argumen Abou El Fadl. Jika pengetahuan manusia terbatas, maka sikap paling religius justru adalah kehati-hatian, bukan kepastian yang berlebihan. Namun dalam realitas sosial, ayat ini sering kalah oleh retorika agama yang simplistik dan penuh vonis.
Buku ini kemudian menyoroti bagaimana otoritarianisme agama sering kali menemukan korbannya pada kelompok rentan, terutama perempuan. Abou El Fadl menunjukkan bahwa banyak fatwa dan tafsir yang membatasi perempuan bukan lahir dari keharusan teks, melainkan dari pembacaan selektif yang kehilangan sensitivitas moral.
Ia mengingatkan bahwa tafsir yang menghasilkan ketidakadilan sistemik patut dipertanyakan, bukan hanya secara sosial, tetapi juga secara teologis. Sebab, mustahil kehendak Tuhan Yang Mahaadil direpresentasikan melalui praktik yang merendahkan martabat manusia.
Pesan ini diperkuat oleh sabda Nabi Muhammad yang menekankan kehati-hatian dalam berbicara dan mengambil otoritas keagamaan:
Barang siapa berbicara tentang Al-Qur'an tanpa ilmu, maka bersiaplah menempati tempat duduknya di neraka.(HR. Tirmidzi)
Hadis ini bukan ancaman kosong, melainkan peringatan etis. Berbicara atas nama Tuhan bukan soal keberanian berdalil, tetapi kesadaran akan konsekuensi moral dari setiap kata yang diucapkan.
Dalam kehidupan sehari-hari, pesan ini terasa sangat dekat. Kita sering mendengar klaim keagamaan yang tegas, cepat, dan penuh keyakinan, tetapi miskin empati. Buku ini mengajak pembaca berhenti sejenak dan bertanya: apakah yang sedang kita dengar benar-benar suara agama, atau hanya gema ego manusia yang dibungkus dalil?
Penilaian Kritis dan Relevansi
Kekuatan utama Speaking in God's Name terletak pada keberaniannya mengkritik otoritarianisme agama dari dalam tradisi Islam sendiri. Abou El Fadl tidak memosisikan diri sebagai penyerang agama, tetapi sebagai penjaga etika penafsiran. Ia menunjukkan bahwa iman tidak bertentangan dengan kritik, justru membutuhkan kritik agar tetap hidup dan manusiawi.
Gaya penulisannya akademis namun reflektif. Meski tidak selalu ringan, buku ini tetap relevan bagi pembaca di luar kalangan akademisi karena isu yang dibahas sangat dekat dengan realitas umat: fatwa instan, ceramah hitam-putih, dan klaim kebenaran tunggal.
Namun, bagi pembaca yang terbiasa dengan model keberagamaan yang serba pasti, buku ini bisa terasa mengguncang. Ia tidak memberi jawaban sederhana, tetapi mengajak berpikir lebih jujur dan bertanggung jawab. Justru di situlah nilai utamanya.
Agama sebagai Amanah Moral
Speaking in God's Name adalah pengingat bahwa agama bukan panggung untuk menunjukkan siapa paling benar, melainkan jalan panjang menuju keadilan dan kejujuran moral. Dengan menekankan keterbatasan manusia, Khaled Abou El Fadl mengajak kita lebih rendah hati dalam beragama.
Di tengah dunia yang ramai oleh klaim "ini kehendak Tuhan", buku ini hadir sebagai suara penyeimbang: Tuhan tidak kehilangan kemuliaan ketika manusia berdialog, tetapi justru terluka ketika nama-Nya dipakai untuk membungkam nurani.
