Live Rentang Kala: Ustadz TV dan Dakwah Permen Karet

Rentang Kala

Catatan Perjalanan, Pikiran, dan Jeda

← Kembali ke Beranda
Oleh: Isomuddin Rosyidi Memuat... 3 komentar

Ustadz TV dan Dakwah Permen Karet

 


Dari Jalan Sunyi Menuju Sorot Lampu Kamera

Pernahkah Anda memperhatikan layar kaca atau beranda medsos sambil mengernyitkan dahi: mengapa penceramah zaman sekarang jauh lebih mirip bintang sinetron ketimbang orang alim penyambung lidah para nabi? Di depan sorot lampu studio, air mata bisa menetes begitu pas pada menit kelima—seolah ada tombol otomatisnya—lalu sedetik kemudian langsung berganti tawa terpingkal-pingkal tepat sebelum jeda iklan sabun colek dan obat kuat.

Dulu, orang berilmu dan para penyeru kebaikan itu dihormati bukan karena baju gamisnya yang berkilau atau mobil mewahnya yang berderet, melainkan karena kedalaman ilmunya, kebersihan hatinya, dan kerelaannya hidup sederhana mendampingi rakyat kecil di pelosok kampung (Madjid, 1992: 215). Mereka menempuh "jalan sunyi"—belajar bertahun-tahun membaca kitab tebal, menundukkan hawa nafsu, dan pantang menjilat penguasa.

Namun, begitu agama bertemu dengan industri hiburan dan logika dagang, wajah dakwah mendadak berubah jadi "dakwah permen karet". Rasanya memang manis, legit, dan meledak-ledak di mulut saat menit pertama dikunyah. Tapi coba tunggu sebentar; begitu saripati gulanya habis, yang tersisa hanyalah ampas kenyal hambar yang bikin rahang capek, lalu tanpa pikir panjang langsung kita buang ke tong sampah.

Menjual Surga, Mengunyah Ampas Hiburan

Kritikus media Neil Postman (1985: 84) jauh-jauh hari sudah mengingatkan kita: bahaya terbesar dari televisi bukanlah saat ia menyuguhkan tontonan bodoh, melainkan saat urusan sakral—seperti agama dan nasib bangsa—dikemas jadi tontonan lawak (showbiz). Layar kaca itu anti-kerumitan; ia tidak suka obrolan mendalam yang bikin mikir. Yang ia minta cuma satu: sensasi cepat, visual heboh, dan pancingan emosi sesaat biar jempol betah menempel di layar.

Dari rahim industri inilah lahir fenomena yang disebut Greg Fealy (2008: 15–20) sebagai consuming Islam alias komodifikasi agama. Agama tak lagi jadi obat penawar luka batin atau cambuk pengingat bagi ketidakadilan sosial, melainkan barang dagangan di etalase mal peradaban. Sang penceramah beralih fungsi bak tenaga penjual (salesman): dosa ditakut-takuti dengan cara yang seram, lalu keselamatan diobral dengan resep instan—mulai dari formula zikir cepat kaya, ajakan poligami kilat, sampai paket jalan-jalan religi berbalut gaya hidup mewah (Fealy, 2008: 24; Turner, 2010: 18).

Yang menyedihkan, publik sering tak sadar sedang terkena apa yang diistilahkan sosiolog Pierre Bourdieu (1991: 163) sebagai kekerasan simbolik (symbolic violence). Kita menganggap kebodohan yang dibungkus jubah gemerlap sebagai hal yang lumrah dan berpahala. Orang yang baru kemarin sore belajar agama mendadak jadi panutan nasional hanya karena pandai merangkai kata-kata manis di video pendek. Sementara itu, para kiai udik dan guru ngaji yang puluhan tahun membimbing warga di pedalaman justru dipandang sebelah mata karena dianggap kuno dan tak masuk selera pasar (Geertz, 1960: 135; Madjid, 1992: 220).

Ruang publik yang mestinya jadi tempat kita saling mencerdaskan dan memanusiakan manusia—seperti harapan JΓΌrgen Habermas (1989: 142)—malah berubah jadi pasar malam penuh kepalsuan. Alih-alih membakar kepedulian kita terhadap tetangga yang kelaparan, anak putus sekolah, atau koruptor yang merampok uang rakyat, kita malah disibukkan dengan perdebatan remeh-temeh: sibuk mengutak-atik perkara selangkangan, meributkan hal-hal mistis, dan menimbun rasa bangga semu karena merasa paling suci sedunia.

Memuntahkan Permen Karet, Membasuh Muka Sendiri

Dakwah permen karet adalah cermin buram bagi cara beragama kita yang makin doyan bungkus ketimbang isi. Kalau kita terus-menerus menelan dakwah model begini, batin kita akan kenyang oleh angin palsu: gampang marah saat simbol agama disentuh, tapi dingin dan mati rasa saat melihat penderitaan manusia di depan mata.

Sudah saatnya kita berhenti mengunyah ampas manis yang bikin gigi keropos ini. Matikan sejenak layar gawai, singkirkan candu tontonan para selebritas mimbar, dan mulailah belajar membasuh muka sendiri. Carilah sumber air ilmu yang jernih: orang-orang tua bijak di kampung, guru-guru ikhlas yang tak silau kamera, dan mereka yang tindak-tanduknya mengajarkan kita bagaimana menjadi manusia yang welas asih.

Sebab pada akhirnya, iman bukanlah manisan yang habis manisnya dalam sekali kunyah, melainkan akar pohon yang menghunjam ke tanah—tetap kokoh menaungi sesama, tak peduli apakah daunnya disorot lampu kamera atau dibiarkan basah oleh embun pagi. Tabik! [I_R]

Bagikan Tulisan Ini:

πŸ’¬ Tanggapan Pembaca (3)

πŸ‘€
Moh. Isomuddin 29 Agustus 2026 pukul 01.38
Naiseeeee!! heuheu
πŸ‘€
Aza Helmi Latif 29 Agustus 2026 pukul 14.30
Tulisan yang bagus banget dan bikin mikir, Gus. Istilah 'dakwah permen karet' itu pas banget buat ngegambarin ceramah zaman sekarang, manis di awal, tapi nggak ada isinya. Memang sedih lihat orang sekarang gampang banget emosi kalau bahas agama di medsos, tapi malah cuek sama tetangga yang kesusahan. Terima kasih sudah mengingatkan kita buat kembali nyari ilmu dari kiai atau guru ngaji kampung yang bener-bener ikhlas.
πŸ‘€
Isomuddin Rosyidi 29 Agustus 2026 pukul 19.00
Wkakaka. Keren ya tampilannya, Kamu bikin juga za. hahaha

Tuliskan Komentar Anda:

Ikuti Penulis

Tautan berhasil disalin!