Dari Jalan Sunyi Menuju Sorot Lampu Kamera
Pernahkah Anda memperhatikan
layar kaca atau beranda medsos sambil mengernyitkan dahi: mengapa penceramah
zaman sekarang jauh lebih mirip bintang sinetron ketimbang orang alim
penyambung lidah para nabi? Di depan sorot lampu studio, air mata bisa menetes
begitu pas pada menit kelima—seolah ada tombol otomatisnya—lalu sedetik
kemudian langsung berganti tawa terpingkal-pingkal tepat sebelum jeda iklan
sabun colek dan obat kuat.
Dulu, orang berilmu dan para
penyeru kebaikan itu dihormati bukan karena baju gamisnya yang berkilau atau
mobil mewahnya yang berderet, melainkan karena kedalaman ilmunya, kebersihan
hatinya, dan kerelaannya hidup sederhana mendampingi rakyat kecil di pelosok
kampung (Madjid, 1992: 215). Mereka menempuh "jalan sunyi"—belajar
bertahun-tahun membaca kitab tebal, menundukkan hawa nafsu, dan pantang
menjilat penguasa.
Namun, begitu agama bertemu
dengan industri hiburan dan logika dagang, wajah dakwah mendadak berubah jadi
"dakwah permen karet". Rasanya memang manis, legit, dan meledak-ledak
di mulut saat menit pertama dikunyah. Tapi coba tunggu sebentar; begitu
saripati gulanya habis, yang tersisa hanyalah ampas kenyal hambar yang bikin
rahang capek, lalu tanpa pikir panjang langsung kita buang ke tong sampah.
Menjual Surga, Mengunyah Ampas Hiburan
Kritikus media Neil Postman
(1985: 84) jauh-jauh hari sudah mengingatkan kita: bahaya terbesar dari
televisi bukanlah saat ia menyuguhkan tontonan bodoh, melainkan saat urusan
sakral—seperti agama dan nasib bangsa—dikemas jadi tontonan lawak (showbiz).
Layar kaca itu anti-kerumitan; ia tidak suka obrolan mendalam yang bikin mikir.
Yang ia minta cuma satu: sensasi cepat, visual heboh, dan pancingan emosi
sesaat biar jempol betah menempel di layar.
Dari rahim industri inilah lahir fenomena yang disebut Greg Fealy (2008: 15–20) sebagai consuming Islam alias komodifikasi agama. Agama tak lagi jadi obat penawar luka batin atau cambuk pengingat bagi ketidakadilan sosial, melainkan barang dagangan di etalase mal peradaban. Sang penceramah beralih fungsi bak tenaga penjual (salesman): dosa ditakut-takuti dengan cara yang seram, lalu keselamatan diobral dengan resep instan—mulai dari formula zikir cepat kaya, ajakan poligami kilat, sampai paket jalan-jalan religi berbalut gaya hidup mewah (Fealy, 2008: 24; Turner, 2010: 18).
Yang menyedihkan, publik
sering tak sadar sedang terkena apa yang diistilahkan sosiolog Pierre Bourdieu
(1991: 163) sebagai kekerasan simbolik (symbolic violence). Kita
menganggap kebodohan yang dibungkus jubah gemerlap sebagai hal yang lumrah dan
berpahala. Orang yang baru kemarin sore belajar agama mendadak jadi panutan
nasional hanya karena pandai merangkai kata-kata manis di video pendek.
Sementara itu, para kiai udik dan guru ngaji yang puluhan tahun membimbing
warga di pedalaman justru dipandang sebelah mata karena dianggap kuno dan tak
masuk selera pasar (Geertz, 1960: 135; Madjid, 1992: 220).
Ruang publik yang mestinya
jadi tempat kita saling mencerdaskan dan memanusiakan manusia—seperti harapan
JΓΌrgen Habermas (1989: 142)—malah berubah jadi pasar malam penuh kepalsuan.
Alih-alih membakar kepedulian kita terhadap tetangga yang kelaparan, anak putus
sekolah, atau koruptor yang merampok uang rakyat, kita malah disibukkan dengan
perdebatan remeh-temeh: sibuk mengutak-atik perkara selangkangan, meributkan
hal-hal mistis, dan menimbun rasa bangga semu karena merasa paling suci
sedunia.
Memuntahkan Permen Karet, Membasuh Muka
Sendiri
Dakwah permen karet adalah
cermin buram bagi cara beragama kita yang makin doyan bungkus ketimbang isi.
Kalau kita terus-menerus menelan dakwah model begini, batin kita akan kenyang
oleh angin palsu: gampang marah saat simbol agama disentuh, tapi dingin dan
mati rasa saat melihat penderitaan manusia di depan mata.
Sudah saatnya kita berhenti
mengunyah ampas manis yang bikin gigi keropos ini. Matikan sejenak layar gawai,
singkirkan candu tontonan para selebritas mimbar, dan mulailah belajar membasuh
muka sendiri. Carilah sumber air ilmu yang jernih: orang-orang tua bijak di
kampung, guru-guru ikhlas yang tak silau kamera, dan mereka yang
tindak-tanduknya mengajarkan kita bagaimana menjadi manusia yang welas asih.
Sebab pada akhirnya, iman
bukanlah manisan yang habis manisnya dalam sekali kunyah, melainkan akar pohon
yang menghunjam ke tanah—tetap kokoh menaungi sesama, tak peduli apakah daunnya
disorot lampu kamera atau dibiarkan basah oleh embun pagi. Tabik! [I_R]